Detoksifikasi Pendidikan di Era Pandemi

Detoksifikasi Pendidikan di Era Pandemi
gambar ilustrasi/net

 

ARTIKEL – Pendidikan bukan lagi hal yang sulit didapatkan oleh semua orang layaknya zaman penjajahan terdahulu. Pendidikan saat ini bahkan mewajibkan setiap anak harus mendapatkan pendidikan di lembaga pendidikan formal minimal selama 12 tahun. Kebijakan tersebut merupakan salah satu upaya agar cita-cita bangsa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 bisa tercapai. UU No. 20 Tahun 2003 juga menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar  dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar  dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan  spiritual  keagamaan,  pengendalian diri,  kepribadian,  kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Pengertian  pendidikan tersebut kiranya sudah sangat gamblang menjelaskan bahwa proses pembelajaran yang ada di lembaga pendidikan ingin membentuk kecerdasan intelektual, kepribadian, dan kecerdasan spiritual seorang anak. Namun hal tersebut tidak dapat tercapai apabila tidak adanya partisipasi lain dari lingkungan belajar anak. Dimana lingkungan belajar seorang anak dibagi seperti yang diketahui yakni ada tiga, lingkungan keluarga, lingkungansekolah dan masyarakat agar pendidikan bisa lebih efektif, hal ini juga selaras dengan perkataan Nadiem Makarim dalam sambutan pembukaan Workshop Self Driving For Teacher.

Sebagaimana dalam surat Luqman yang menceritakan bahwaLuqman diperintahkan untuk mengajari anaknya untuk tidak menyekutukan Allah, dan di hadits yang lain juga dikatakan bahwa keluarga adalah tempat pendidikan pertama seorang anak. Hal ini mengarti kan bahwa lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, kepribadian dan akhlak seorang anak. Lingkungan sekolah dan masyarakat yang kemudian menyempurnakan apa yang sudah dimiliki anak di keluarganya.

Namun nyatanya, pendidikan saat ini hanya menitikberatkan pada salah satu lingkungan belajar yakni sekolah/madrasah. Beberapa orang tua beranggapan bahwa anak akan belajar segala hal dari lingkungan sekolah. Sedangkan di rumah, anak tidak perlu untuk diajarkan apapun lagi. Sehingga orang tua seolah-olah lepas tangan dengan pembentukan kecerdasan seorang anak.

Tetapi ketika guru menghukum siswanya karena dirasa siswa tersebut bersalah, orang tua tidak dapat menerima dan menuntut gu ru dengan berbahan dasar UU Perlindungan Anak. Sangat miris bukan nasib guru-guru saatini? Mengapa bisa dikatakan demikian, karena ketika orang tua dituntut kewajibannya untuk membantu membentuk kecerdasan anak, orang tua seolah-olah lepas tangan. Namun ketika, guru menghukum siswa yang memang karena siswa tersebut bersalah, orang tua seakan-akan menyalahkan bahwa guru tersebut yang bersalah karena tidak mampu mendidik anaknya dengan baik.Sehingga muncullah kasus guru dipenjara, guru dipukul oleh siswanya, dan masih banyak kasus-kasus lainnya.

Melihat bagaimana dunia pendidikan saat ini, dimana guru terbully oleh siswanya sendiri. Kemuliaan seorang guru, perjuangan seorang guru seakan sudah sirna di mahasiswa dan orang tua. Sedangkan guru tidak dapat membela, meluruskan serta membuktikan kepada orang tua bagaimana susahnya mendidik tidak hanya satu anak dalam satu  waktu. Karena ketidakberdayaan guru tersebut, alam melihat segala hal yang terlihat. Alam juga tidak tinggal diam melihat hal tersebut dan bergerak untuk membuktikan hal tidak dapat diungkapkan oleh seorang guru.

Bagaimana bisa alam menyampaikan hal yang begitu sulit bagi guru? Alam hanya cukup membentuk sebuah virus, dimana virus tersebut sangat mampu mengubah keseimbangan alam. Seperti yang saat ini sedang terjadi, yakni adanya Virus Corona atau yang biasa dikenal dengan Covid 19.

Layaknya virus biasa namun Covid 19 mampu mengubah keseimbangan yang ada di bumi. Salah satu yang terkena dampaknya yakni dalam ranah pendidikan. Dengan adanya Covid 19, semua lembaga pemerintahan termasuk lembaga pendidikan mengeluarkan kebijakan untuk melakukan pembelajaran dari rumah. Bukan libur, akan tetapi pembelajaran tetap berlangsung namun di rumah. Covid 19 memberi kesempatan  kepada orang tua untuk bisa berperan langsung dalam membimbing putra putrinya. Memberi kesan kepada orang tua bagaimana susahnya menjaga, mengawasi, dan membimbing putra putrinya sendiri untuk belajar.

Keadaan seperti ini mengembalikan pendidikan pada lingkungan belajar asal muasalnya yakni lingkungan keluarga. Sehingga tidak heran, ditemui beberapa keluhan orang tua yang merasa menyerah untuk terus membimbing, mengawasi anaknya untuk belajar. Padahal belajar dari rumah baru berlangsung sekitar 45 hari. Dan yang diajari pun juga masih darah kandungnya sendiri. Ini kemudian menjadi sebuah pukulan bagi orang tua untuk bisa menghargai jerih payah seorang guru.

Setidaknya dengan adanya belajar dari rumah seperti yang saat ini sedang terjadi bisa membuka cara pandang orang  tua untuk bisa menghargai dan menerima perlakuan seorang guru kepada anaknya. Karena seorang guru tidak akan memberikan punishment kepada siswanya jika siswa tersebut tidak bersalah. Dan dari hal ini, diharapkan orang tua tidak lagi dengan mudah menyalahkan guru yang memberikan punishment kepada anaknya ketika di sekolah. Setidaknya, jika memang ingin melakukan klarifikasi dan tidak menerima putra putrinya dihukum, orang tua hendaknya menegur seorang guru dengan cara yang lebih baik. Tidak hanya dengan mengandalkan UU Perlindungan Anak yang dapat merugikan dan merusak nama baik seseorang.

Namun guru, juga harus bisa tetap bersikap adil. Tidak semena-mena terhadap siswanya dan harus selalu bersikap adil. Menghargai siswa dengan mendengar pendapatnya terlebih dahulu. Tidak dengan mudahnya melakukan kekerasan fisik ketikabenar siswa tersebut bersalah. Hendaknya guru juga lebih bijak dalam memilih punishment yang bisa benar-benar mendidik siswa untuk menghormati yang lebih tua dan menghargai sesamanya. Dengan begitu akan tercipta lingkungan belajar yang nyaman untuk siswa. Baik di rumah maupun di sekolah.

Makadariitu, adanya Covid 19 memang bisa dikatakan bencana bagi dunia. Namun juga masih memiliki manfaat lain salah satunya yakni membuka sudut pandang baru kepada beberapa orang. Memberi pengalaman yang baru sehingga manusia bisa menghargai satu sama lainnya. Maka tidak heran, jika ada beberapa orang yang berterima kasih dengan adanya Covid 19 ini. Namun tidak juga lalai untuk selalu menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar agar tetap terhindar dari virus, bakteri, dan penyakit apapun itu.

 

*Penulis adalah Guru MAN Tuban

 

Sumber: globalnusantara/fm

redaksifm

redaksifm