Corona Membuat Siswa di Desa Merana

Corona Membuat Siswa di Desa Merana

Oleh: Mimin Wulandari, S.Si

PANDEMI corona sampai saat ini masih menjadi topik pembicaraan dimana-mana. Virus mematikan ini menghantui semua kalangan masyarakat di Indonesia, membuat was-was dan takut. Media sosial hampir setiap hari menyajikan berita tentang corona dan corona. Istilah social distancing muncul untuk mengantisipasi agar virus ini tidak semakin meluas. Dampak dari social distancing kita dilarang berkerumun, berada ditempat keramaian, pusat perbelanjaan, bahkan untuk beberapa saat tempat peribadahan dan pertokoan sementara ditutup. Untuk para pekerja diberlakukan istilah Work From Home atau bekerja dari rumah. Kami sebagai tenaga pendidik dan siswa juga terimbas dengan adanya corona ini.

Presiden Jokowi sudah menghimbau untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah selama pandemi virus corona ini. Pemerintah mengeluarkan kebijakan agar guru dan siswa tidak perlu datang kesekolah untuk beberapa waktu. Penyesuaian sistem kerja Aparatur Sipil Negara dalam upaya pencegahan Penyebaran Covid-19 dilingkungan Instansi Pemerintah diatur dalam surat edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpanrb) Nomor 19 Tahun 2020.

Dampak kebijakan pemerintah untuk belajar dari rumah membuat kami tenaga pendidik dan siswa dituntut untuk melek teknologi. Jika sebelumnya kami menggunakan whatsap, facebook, instagram sebagai media sosial, saat ini dituntut untuk belajar tentang google classromm, zoom meeting, google meet dan lain lain. Melek teknologi kami lakukan agar proses kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung ditengah pandemi corona.

Beberapa kendala yang kami alami sebagai tenaga pendidik didaerah pedesaan, selama proses pembelajaran dari rumah melalui media on line, terbatasnya siswa yang memiliki handphone, gadget ataupun laptop. Walaupun siswa memiliki gadget untuk pembelajaran daring(dalam jaringan) masalah kuota juga menjadi masalah, karena latar belakang perekonomian yang minus membuat siswa tidak bisa membeli kuota.

Dari 30 orang Jumlah siswa satu kelas tidak lebih dari lima belas orang yang mempunyai gadget, sehingga ketika kami mengadakan pembelajaran secara daring hanya beberapa siswa yang mengumpulkan tugas dan merespon pertanyaan-pertanyaan kami selama daring. Hal ini menjadi kendala bagi kami untuk menyelesaikan materi kegiatan belajar mengajar serta mendapatkan hasil evaluasi belajar secara maksimal.

Pendampingan orang tua selama siswa belajar dari rumah juga menjadi masalah karena kebanyakan orang tua bekerja sebagai buruh tani, kuli bangunan, kuli gudang, sehingga siswa lebih banyak mengerjakan sendiri tanpa ada pendampingan orang tua. Banyak siswa mengeluh dengan adanya pembelajaran kami, ketika si A tidak punya “hape”, atau mereka mengeluh, banyak sekali tugasnya bu dan lain lain. Kebanyakan siswa meminta agar tugasnya tidak dikumpukan hari itu juga dan waktu penyelesaian tugas diundur.

Apapun kendalanya transfer ilmu di tengah pandemi corona ini harus tetap berlangsung. Karena setiap siswa mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Tidak mau ketinggalan ditengah kemelut pandemi corona ini perusahaan telkomsel menyediakan aplikasi gratis Ruang guru untuk proses pembelajaran dari rumah, seyogyanya guru dan siswa bisa berselancar dengan bebas untuk menambah ilmu melalui aplikasi ini.

Kementerian pendidikan dan kebudayaan juga telah menggandeng stasiun TVRI untuk membantu masyarakat mendapatkan pembelajaran dan tetap bahagia dirumah selama pandemi COVID-19. Mungkin banyak siswa yang tidak memiliki gadget, tapi kami yakin semua siswa mempunyai Televisi, dengan adanya tayangan Rumah belajar di TVRI bisa digunakan siswa sebagai sumber belajar yang sangat bermanfaat sekali.

Jawaban dari judul tulisan diatas bisa dijawab, bahwa tidak ada kata merana bagi siswa didesa ditengah pandemi corona. Apapun kondisinya kita harus semangat menimba ilmu pengetahuan dan mendapatkan pendidikan yang layak, karena “ Pendidikan adalah senjata yang ampuh untuk mengubah dunia” –Nelson Mandela.
Tetap semangat…. belajar….belajar…….belajar dan terus belajar. (*)

 

Sumber: globalnusantara.net

redaksifm

redaksifm