Eksistensi Budaya Lokal di Era Milenial Kota Surabaya

Eksistensi Budaya Lokal di Era Milenial Kota Surabaya

Oleh : Jihan nafisah

Di era globalisasi seperti ini banyak budaya baru masuk dan mulai menggeser kebudayaan lama yang sudah ada dari zaman dulu. Fenomena tersebut sudah terjadi beberapa tahun belakangan di hampir seluruh belahan dunia. Keberagaman budaya Indonesia seakan tersisihkan ketika modernisasi mulai menjamah negara ini. Reaksi dan dampak yang didapatkan disetiap daerah pun berbeda-beda. Contohnya dikota, dampak dan reaksi yang disebabkan oleh masuknya budaya asing ke Indonesia berbeda dengan di daerah pelosok desa, yang cenderung sulit menerima budaya baru karena budaya asli daerah setempat yang masih sangat kental, serta tinggi rendahnya pendidikan juga mempengaruhi cara pandang suatu masyarakat terhadap perubahan sosial yang ada.

Surabaya salah satu kota metropolitan yang keberadaannya tak dapat menghindari perubahan sosial tersebut. Bahkan beberapa tempat di Surabaya kini banyak yang berubah menjadi tempat umum seperti mall, pabrik, real estet, dan lain sebagainya karena pengaruh adanya budaya dan investor asing. Namun sebagai kota pahlawan yang penuh dengan kenangan akan sejarahnya, Surabaya masih mampu mengimbangi perubahan sosial yang disebabkan oleh masuknya budaya asing dengan mempertahankan daerah-daerah asli Surabaya yang memang dari zaman dahulu terkenal dengan kearifan lokalnya.

Di ujung utara kota Surabaya terdapat tempat menarik karena kearifan lokalnya yang masih bertahan ditengah terpaan modernisasi. Tepatnya di daerah kenjeran, desa nambangan-cumpat kelurahan kedung cowek kecamatan bulak. Daerah ini menarik untuk dikunjungi karena tak hanya sumber daya alamnya yang melimpah dibidang hasil laut, namun juga kultur budaya warga setempat yang masih kental dan khas terhadap mempertahankan nilai-nilai keagamaan.

Tak hanya itu, sebagai warga pesisir yang terkadang sering dipandang sebelah mata karena kumuhnya, ternyata sungguh amat mengagumkan. Betapa tidak, pasalnya keramahan dan kerukunan warga setempat ini sering ditunjukkan melalui berbagai kegiatan unik yang mungkin jarang kita jumpai di kota besar seperti Surabaya ini.

Salah satunya seperti Sholawat Burda Keliling, kegiatan religius yang dilaksanakan setiap sebulan sekali dengan membaca sholawat burda bersama-sama dan mengelilingi desa ini diyakini masyarat sebagai upaya melindungi desa, serta ajang bersilaturahmi dengan seluruh warga desa nambangan – cumpat lainnya. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh kalangan warga desa nambangan – cumpat ini memberikan dampak positif, khususnya bagi generasi muda sekitar untuk mengimbangi kemajuan zaman di era digital saat ini dengan masih menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan keagamaan yang mulai banyak ditinggalkan di beberapa kota besar lainnya.

Selain sholawat burda keliling, ada banyak kegiatan religius lainnya yang melibatkan peran generasi muda setempat. Tentu saja dengan harapan agar generasi milenial saat ini tak hanya bisa menerima budaya baru namun juga berhasil menjaga dan bangga dengan budaya leluhur yang sudah dulu ada.

 

Jihan nafisah

redaksifm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *