Meraih Mimpi Dengan Prestasi

Meraih Mimpi Dengan Prestasi

Oleh : Siti Umrotus Sa’diyah

Rintikan hujan menjatuhi bumi, rasa dingin yang menyergap tubuh membuatku malas untuk jbangkit dai atas tempat tidur. Namun waktu tak mungkin menungguku sampai aku bangun. Ku lirik jam dinding beberapa saat, kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.00. ku paksakan tubuhku untuk bangun dan segera mandi dan mengambil air wudhu. Seusai sholat dan memakai seragam, aku berjalan ke arah ruang tamu. Tampak ibu sedang membersikan debu-debu yang menempel di kursi. Karena ibu terlihat begitu sibuk. Aku mengurungkan niatku untuk bertanya kepadanya megenai buku catatanku yang lupa entah dimana. Saat aku sedang sibuk mencari-cari di meja belajar adikku datang menghampiriku, keadaan setengah sadar.

“Nyariin apa sih mbak?”

“Lagi nyariin buku catatanku yang isinya cerpen-cerpen” kataku yang sibuk mencai

“Sampulnya warna apa sih?”

“Warna biu ada gambar doraemonnya”

“Oh aku kemarin lihat di kamar mbak”

“Oke makasi dek” sambil bergegas pergi ke kamar

Dinda, itulah panggilanku baik di rumah maupun di sekolah. Aku mmiliki hobi menulis yang akhirnya mengantarkanku bisa masuk di UKM Jurnalis di kampusku saat ini. Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Atas, aku juga berkesempatan menjadi anggota jurnalis selama 2 tahun setengah, dan karna hobi itulah aku juga menjuarai lomba menulis cerpen se-kabupaten. Saat ini aku tengah duduk di semester 4 prodi Komunikasi Penyiaran Isam UIN Sunan Ampel Surabaya. Alhamdulillah dengan doa dan prestasi serta dukungan orang tua aku bisa diterima di Perguruan Tinggi Islam di Surabaya melalui jalur undangan.

Perjalanan dari rumah kekampus hampir memakan waktu satu jam jika tidak macet, namun karena aku menggunakan transportasi umum paling lambat aku sampai dikampus jam 07.30 itu pun masuk kelasnya terkadang terlambat. Ketika sampai didepan fakultas ada seseorang yang memanggil namaku.

“Dinda., tungguin aku”

“Oh iya ayok buruan nanti telat loh” kataku sambil membalikkan badan kearah suara tadi berasal.

“Iya bentar Din, masih jalan nih”

Kemudian kita berdua pun bergegas masuk keruang kelas mata kuliah jam pertama di pagi itu. Ketika didalam kelas aku mendapatkan panggilan dari salah satu dosen yang tak lain adalah dosen waliku. Beliau meminta agar aku menghadap beliau diruangannya untuk kepentingan yang harus segera diselesikan. Dengan segera aku beranjak pergi meninggalkan perkuliahan yang kebetulan telah berlangsung untuk menghadap dosen waliku.

Ketika sampai diruangan beliau, aku dipersilahkan duduk dikursi yang berhadapan dengan beliau. Dengan penuh tanda tanya didalam benakku, aku pun memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan.

“ Assalamu’alaikum prof.,?” panggilku menyapa beliau.

“Wa’alaikumsalam, oh iya silahkan duduk dulu”

“Ada apa ya prof kok saya dipanggil kemari ?” kataku dengan penuh rasa cemas

Bagaimana aku tidak merasa cemas, karena baru pertama kalinya aku dipanggil oleh beliau seorang diri untuk menghadap beliau. Tanpa ada jawaban beliau pun memberikan selembar kertas yang tadi beliau baca ketika aku masuk ruangan. Kertas itupun semakin membuatku takut, dan pikiranku mulai membayangkan hal-hal yang kemungkinan akan terjadi.

“Ya allah kertas apa ya ini? Apa aku akan di DO atau hanaya surat peringatan. Tapi aku tak pernah melakukan kesalahan yang fatal.,???” ujarku dalam hati

Dengantegas dan wajah yang menunjukkan keseriusan, beliau mulai berbicara.

“Tolong kamu baca kertas itu dengan teliti dan kasih tau saya apa isi yang ada dalam kertas itu” ujar beliau tegas.

Kemudian aku membaca semua isi yang ada pada kertas itu sesuai yang di minta oleh dosen waliku. Hampir 5 menit aku membaca dan memahami isi dalm kertas itu.

“Bagaimana apa kamu sudah bisa memahami isinya”

“Belum prof.,saya masih tidak faham dengan isi yang ada dalam kertas ini” kataku sedikit terbata-bata karena takut.

“Baiklah, saya ucapkan selamat kepada kamu karena besok tulisan-tulisan yang kamu berikan kepada saya akan segera diterbitkan” ujar beliau dengan senyum mengembang.

“Alhamdulillah, terimah kasih prof., saya bebar-benar kaget mendengarnya” kataku dengan spontan.

Mungkin inilah ucapan yang bisa mewakili perasaanku saat ini, karena tak ada kata yang paling indah selain mengucap kata syukur atas apa yang aku dapatkan. Aku benar-benar tidak menduga sama sekali jika dosen wali ku berniat mencetak semua tulisanku dalam satu buku. Memang semua tak ada yang sia-sia jika kita melakukannya dengan ikhlas dan ikhtiyar kepada Allah SWT. Hal yang dulunya hanya menjadi hobi dan prestasi kini membuahkan hasil yang membuat impianku menjadi kenyataan.

Siti Umrotus Sa’diyah

redaksifm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *