Hilangnya Moralitas Dan Local Jenius Pada Generasi Milenial

Hilangnya Moralitas Dan Local Jenius Pada Generasi Milenial

 Hilangnya Moralitas Dan Local Jenius Pada Generasi Milenial Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara

 

Oleh: Muhammad Yunus

Indonesia adalah salah satu negara dengan kebudaayan yang sangat maju, hal ini sudah terbukti sejak berabad-abad yang lalu, saat negeri ini masih menjadi Nusantara. Kebudayaan tersebut sudah diakui dunia pada saat itu, hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa kerjaan-kerajaan di Indonesia sudah menjalin hubungan dengan bangsa Arab, China, India dan bahkan mengusai jalur perdangan pada masa itu. Hal itu juga diperkuat dari sumber-sumber sejarah lainnya yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki dua point penting yang menandakan kebudayaan kita yaitu, Indonesia adalah negara dengan kebudayaan yang sangat tinggi, dan memiliki local jenius.

Local jenius adalah keahlian yang dimiliki masyarakat Indonesia pada saat itu, untuk memilah atau menyaring kebudayaan asing yang masuk sehingga dapat ter-alkulturasi dengan budaya asli Indonesia, sehingga tercipta budaya baru. Hal ini dapat kita lihat dari alkulturasi budaya Hindu, Buddha, dan Islam di Indonesia yang dapat menciptakan budaya yang sangat indah. Akan tetapi di era milenial ini local jenius yang dimiliki bangsa ini seakan-akan menghilang. Dewasa ini banyak masyarakat Indonesia tidak dapat menyaring budaya dari luar yang masuk ke Indonesia sehingga banyak memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia membuat para generasi bangsa seakan-akan terlena dengan kebudayaan tersebut, dan mirisnya lagi, mereka tidak peduli dengan budaya yang kita miliki. Hal ini berdampak sangat buruk untuk perkembangan moralitas anak bangsa yang semakin hari kian terkikis, dan mungkin suatu saat nanti mereka tidak akan mengenal budaya kita sendiri. Hal tersebut telah terbukti dengan maraknya tawuran antar pelajar, seks bebas dikalangan remaja, maraknya penggunaan narkoba, bahkan hilangnya toleransi antar sesama anak bangsa. Jika hal ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dapat terancam.

Lalu bagaimana kita sebagai generasi milenial menanggapi hal tersebut? Tentunya dengan kembali mempelajari sejarah dan kebudayaan Indonesia. Ya kita memang mempelajari sejarah sejak duduk di bangku SD hingga SMA, akan tetapi apakah kita telah mempelajari sejarah dengan bersungguh-sungguh? Fenomena di kalangan generasi melenial yang menyebabkan bangsa kita kehilangan local jenius adalah ketidakpedulian akan sejarah bangsa, tidak mempelajari sejarah bangsa dengan bersungguh-sungguh, dan anggapan bahwa pelajaran sejarah adalah pelajaran yang tidak penting dan membosankan. Padahal, sejarah adalah mata pelajaran yang sangat penting untuk membangun moral dan akhlak sebenarnya. Karena dengan mempelajari sejarah kita bisa mendapatkan banyak manfaat.

Adapun manfaat yang bisa kita dapatkan dengan mempelajari sejarah ialah, pertama, kita dapat mengetahui ragam budaya yang dimiliki oleh bangsa ini, kedua, mengetahui identitas kita sebagai bangsa, ketiga dan yang paling penting dengan belajar sejarah kita dapat membentuk dan menguatkan moral kita, agar tidak cepat terpengaruh dengan budaya asing yang masuk ke Indonesia. Dengan belajar sejarah bukan berarti kita menjadi bangsa yang kuno dan tertelan zaman, sebab dengan belajar sejarah dengan benar dan bersungguh-sunggguh kita dapat membentengi diri kita sebagai generasi milenial agar tidak terjerumus ke dalam budaya yang tidak sesuai dengan adat dan norma yang berlaku di Indonesia. Bukannya Bung Karno pernah berkata dalam pidato di akhir kekuasaannya “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah” atau yang lebih orang kenal dengan “Jasmerah”.

Dari kutipan tersebut tersirat makna yang sangat mendalam, bahwasanya kedudukan sejarah itu penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agar bangsa kita tidak gampang dipecah belah. Sehingga menurunkan rasa toleransi kita sebagai anak bangsa. Tragedi yang baru saja terjadi, menandakan bahwasanya generai saat ini mudah di provokasi dan dipecah belah, agar kita saling menumpahkan darah sesama anak bangsa. Bukankah hal seperti itu merupakan sesuatu yang sangat dibenci oleh Tuhan dan bahkan oleh para pendiri bangsa ini. Jika kita tidak lagi mengingat sejarah dan tidak saling toleransi lagi antara anak bangsa, dalam waktu dekat kedaulatan negara kita akan terancam, dan bahkan negara Indonesia ini tidak akan ada lagi.

Apakah kita ingin bangsa ini lenyap begitu saja? Hanya karena generasinya melupakan sejarah? Apakah kita ingin bangsa ini terpecah belah? Layaknya Uni Soviet? Apakah kita tidak ingin menjadi suri tauladan kehidupan beragama untuk negara-negara dunia? Jika kita tidak ingin semua itu terjadi, sudah saatnya kita sebagai generasi milenial sadar akan sejarah, dan betapa pentingnya kedudukan sejarah, agar kita tidak menjadi generasi lemah, dan tidak mudah dipecah belah. Sebab pendiri bangsa ini pasti tidak ingin terjadi pertumpahan darah antara anak bangsanya. Sudah sepantasnya kita menjadi generasi milenial yang melek sejarah, agar kita menjadi generasi yang cerdas, dan dapat mengguncangkan dunia. Sehingga bangsa ini tidak kehilangan local jenius yang dapat mengancam keutuhan bangsa.

Sudah menjadi tugas kita sebagai generasi penerus bangsa untuk tetap menjaga keutuhan negara dengan semangat pancasila. Saling menjaga kerukunan antar umat beragama, agar kita menjadi manusia Indonesia yang beradab, agar kita tetap menjadi satu Indonesia, dan menyelesaikan segala masalah yang ada dengan musyawarah dan kekeluargaan, serta dapat terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab keadilan bukan hanya urusan harta, kita harus sadar bahwasanya hakekat keadilan adalan terjaganya keutuhan bangsa, terciptanya hidup aman sentosa, dan saling menghormati meskipun berbeda agama.

 

Penulis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

 

redaksifm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *