Pandangan Masyarakat atas Pembatasan akses Media Sosial

Pandangan Masyarakat atas Pembatasan akses Media Sosial

Oleh: Ferry Arya Dimas

Seperti yang kita ketahui dan alami beberapa waktu lalu, Pemerintah melalui Menkopolhukam Bapak Wiranto melakukan konferensi pers membahas mengenai pembatasan penggunaan media sosial dalam jangka waktu sementara. Unjuk rasa terjadi didepan Kantor Bawaslu tanggal 21 Mei 2019 yang memakan korban tewas dan luka-luka.

Menteri Komunikasi dan Infromatika Rudi Antara mengatakan telah melakukan upaya pembatasan fitur didalam Media Sosial, baik seperti WhatsApp, Facabook, Instagram yang berkaitan dengan foto dan video.

Pembatasan dalam akses media sosial dialami oleh masyarakat Indonesia khususnya bagi masyarakat yang tinggal di Kota Besar seperti Jakarta. Dalam hal ini masyarakat sangat tidak nyaman dan terganggu dalam mengakses media sosial khususnya bagi pebisnis yang menggunakan diantara media sosial tersebut. Dampak yang ditimbulkan tentu bisa positif maupun negatif karena sangat merugikan seperti terhambat menerima sebuah informasi untuk sementara waktu.

Pada kejadian ini, bagi pebisnis merupakan sebuah kerugian yang didapat karena sumber akses informasi yang terhambat dan tidak lancar dalam menjalankan bisnis. Khusus kami para mahasiswa, hal ini sangat menghambat dalam berkomunikasi, karena keterbatasan dalam menerima informasi yang ada, namun hal itu dapat disiasati dengan menggunakan VPN karena dengan menggunakan VPN kita masih tetap bisa mengakses media sosial tanpa ada pembatasan oleh pemerintah.

Pemerintah sendiri memiliki kekuasaan namun pembatasan penggunaan media sosial yang terjadi saat itu menurut saya hanya bersifat sementara karena dilakukan oleh negara ketika dalam keadaan darurat, dengan pemikiran yang matang-matang dalam melakukan pembatasan penggunaan media sosial.

Undang-Undang ITE yang bekerja sama dengan Instansi-instansi yang lain dalam negara dan dibantu oleh pihak Kepolisian diharapkan dapat saling bekerja sama agar terus memantau perkembangan jaman dan teknologi, mendidik masyarakat dan memberi edukasi dan jika diperlukan memberikan efek jera dengan tidak memandang bulu apapun jabatannya dan status sosial yang dimiliki seperti yang selama ini telah dilakukan.

 

Ferry Arya Dimas

Universitas Muhammadiyah Malang

redaksifm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *